Diakui Unesco sebagai Kota Pusaka Dunia, STP Mataram Gelar “Saling Sapaq” Kota Tua Ampenan


Saling Sapaq Kota Tua Ampenan


Mataram, Literasi-Saling Sapaq Kota Tua Ampenan berlangsung di STP Mataram, Kamis (27/1). Acara dibuka Ketua STP Mataram, Dr.Halus Mandala,M.Hum dan dihadiri Dispar NTB, Dispar Kota Mataram, Lurah se Ampenan, Camat, sejumlah komunitas pencinta Ampenan, dan Pokdarwis Kota Tua Ampenan.

Acara yang digelar Tourism Community Prodi DIII Usaha Perjalanan Wisata itu bertujuan menjadikan Kota Tua Ampenan sebagai ikon pariwisata Kota Mataram.

Halus Mandala mengemukakan kelebihan Ampenan karena merupakan perpaduan masyarakat dari berbagai suku dan tidak pernah ada konflik. Namun, “kita tak pernah mengeksposenya sebagai obyek wisata,” katanya.

Berbagai kekhasan dimiliki Ampenan seperti bangunan bersejarah khas Belanda, kuliner see food. Secara legalitas, Ampenan tercatat tahun 2013 sebagai Kota Pusaka dari 43 Kota Pusaka di Indonesia. Pada tahun 2016 ditetapkan Unesco sebagai Kota Pusaka Dunia dengan klaster B.

“Untuk bisa menjadikan sebagai sesuatu yang baik bagi dunia patut diangkat kembali. Ini penting. Jika ingin mendapatkan pendanaan dari UNESCO masih berpeluang. Syaratnya ada kajian. Tanpa ada upaya itu tidak mungkin didanai,” papar Halus seraya menambahkan sejak 2017 sejumlah Kota Pusaka di dunia untuk klaster A sudah menerima kucuran dana.

Menurut Halus, upaya membangun ikon Ampenan hanya bisa dicapai melalui kobalorasi dengan perencana-perencana kota untuk bisa dilestarikan. Karena itu diperlukan kajian dari berbagai pihak agar bisa menemukan solusi. “Sayang kalau Kota Ampenan tidak diekspose sebagai ikon yang luar biasa,” ujarnya.

Akademisi Azwar Abdullah mengatakan NTB lengkap jika Mataram bangkit dengan heritage tourism. Ketika daerah tetangga dari Lombok Tengah hingga Lombok Timur memiliki keunggulan alam, kehadiran Mataram akan melengkapi NTB dengan budayanya.

“Memotret Ampenan ada kekayaan yang luar biasa. Ampenan harus jadi branding pariwisata Mataram,” ujarnya. Azawar menambahkan, pada bulan Maret dan Oktober pihaknya akan menggelar Festival Kota Tua Ampenan dan Desember diskusi dengan semua komunitas.

Para Lurah yang hadir menilai Ampenan memiliki banyak kelebihan, bahkan terdapat bahasa prokem gabungan Melayu, Cina, Sasak dan Arab. Dibalik beberapa kelemahannya, sejumlah Lurah mengajak semua pihak turun membina mengingat Ampenan yang dulu dikenal sebagai Singapuranya Indonesia.

Camat Ampenan, Muzakir, mengatakan ada kekayaan luar biasa di Ampenan. Namun, membangun kota tua dengan banyak kritis tanpa berbuat tak akan jadi apa apa.

“Seharusnya Pokdarwis melakukan pembinaan. Ada 70 lapak yang membagi diri. Namun lapak yang ditinggalkan tak mau dibagi,” katanya seraya menambahkan vandalisme sementara ini juga perlu diantisipasi.

Salah satu jalan keluar yakni perlunya dibangun keguyuban antarkomponen masyarakat. Bahkan karena itu pula, Ampenan mengusung tage line “Ampenan Seperahu”.

“Dulu ada Festival Ampenan dengan potensi keberagaman, begasingan, hadrah. Sekarang event apa yang bisa dilakukan agar masyarakat menerima manfaat,” ujarnya.

Selandir alias Zainal Arifin dari komunitas heritage mengakui banyak orang Mataram tidak tahu Mataram termasuk Ampenan. Karena itu pihaknya sempat menggelar heritage tour dari Ampenan – Kampung Banjar – Malomba – Jembatan Jangkar – Mataram.

“Kayaknya asyik untuk tourism, misal bisa buat paket tour,” ujarnya.

Menurut Selandir, hal yang membedakan satu tempat dengan tempat lain adalah historinya. Sayangnya, terkait Ampenan banyak yang tidak sadar potensinya. Padahal,nilai histori suatu lokasi sangat menarik perhatian wisatawan.

Ia pun mengaku pernah membawa tamu hanya untuk menjelaskan pohon kenari di Jalan Langko.

“Orang Belanda datang ke Mataram hanya untuk melihat kenari,” katanya. Karena itu, ia menilai mulai hari ini Mataram harus mengetahui potensi diri. “Kalau kita sudah tahu diri kita maka kita bisa tahu berdirinya seperti apa,” lanjut Selandir.

Ketua Pusat Kajian Pariwisata STP Mataram, Dr.Made Suyasa, mengatakan Ampenan adalah heritage sejarah yang tak terbantahkan sekaligus modal yang harus dikelola. Dari aspek legalitas Ampenan sudah memilikinya. Pertanyaannya, “Apa yang dilakukan dinas pariwisata melalui predikat itu?” ujarnya. Jangan sampai orang lain mengakui Ampenan akan tetapi masyarakat tak berbuat untuk dirinya sendiri.

Modal lain adalah pluralisme Ampenan yang sudah teruji karena heterogenitas tersebut tidak pernah menimbulkan konflik. “Orang datang ke Ampenan untuk memperjuangkan diri masing masing dengan toleransi ditengah pluralitas,” katanya.

“Ampenan harus memiliki pusat informasi. Wisatawan yang datang bukan sekadar datang melainkan dapat informasi terkait daerah yang dikunjunginya,” lanjutnya. Ian

19 tampilan0 komentar